Alibaba Besutan Jack Ma Diduga Lakukan Monopoli

China tengah lakukan investigasi dugaan monopoli di perusahaan milik Jack Ma, Alibaba.

Pemerintah China tengah melakukan penyelidikan dugaan monopoli kepada korporasi Alibaba milik Jack Ma.

Otoritas regulasi pengaturan pasar utama China menyebut akan menyelidiki dugaan monopoli yang dilakukan oleh platform belanja online Alibaba dan penyedia penyimpanan cloud milik Jack Ma.

Secara terpisah, Bank of China mengumumkan bahwa empat regulator dalam negeri akan memanggil Ant Group, yang merupakan perusahaan keuangan afiliasi Alibaba, beberapa hari mendatang.

"Pertemuan tersebut nantinya bertujuan untuk memandu Ant Group untuk menerapkan pengawasan keuangan dan mengatur pelayanannya," seperti diungkap dalam pernyataan resmiBank of China, seperti dilansir CNN

Saham Alibaba kini merosot turun 8 persen di HongKong pada sesi perdagangan Kamis lalu. Kini sahamnya anjlok 26 persen dan merugi lebih dari 240 miliar dollar AS sejak Alibaba berada di puncaknya pada akhir Oktober 2019.

Turunnya saham tersebut, ditengarai terjadi sebelum IPO Group Ant ditarik dari Wall Street yang langsung turun drastis hampir 7 persen pada pasar saham.

Regulasi tersebut adalah langkah baru yang diambil oleh Beijing untuk mengatur pedal gasnya pada perusahaan teknologi nasional.

Alibaba didirikan pada tahun 1999. Perusahaan ini dengan cepat bertransformasi menjadi kerajaan teknologi yang terbilang besar dan menyentuh hampir setiap aspek kehidupan di Tiongkok.

Platform e-commerce tersebut memiliki ratusan juta pengguna, dan mendominasi sektor ritel online China.

Ant Group juga merupakan platform pembayaran online, yang diklaim menjadi yang terbesar di negara tersebut. Ia menawarkan beberapa layanan, mulai dari investasi, tabungan, asuransi, kredit hingga fitur kencan online.

Imbas dari ditariknya IPO Group Ant November lalu, menuai kritik Jack Ma kepada regulator China, SAMR mengungkapkan pedoman baru yang bertujuan untuk mencegah monopoli internet.

Langkah tersebut dianggap membuat para investor khawatir, dan berimbas pada penarikan uang ratusan miliar dollar AS dari saham teknologi China.

Pada Rabu (23/12) lalu, SAMR memanggil sedikitnya enam perusahaan raksasa asal China, yaitu Alibaba, Tencent, JD.com, Meituan, Pinduoduo dan Didi Chuxing.

Pemanggilan tersebut bertujuan memberikan sosialisasi perihal peningkatan regulasi praktik bisnis mereka, yang memungkinkan sekelompok orang dapat membeli barang dengan harga yang sangat rendah.

Model pembelian barang online semakin populer di China dalam beberapa tahun terakhir, terlebih selama pandemi virus Corona.

Kamis lalu SAMR mengatakan, pihaknya perihatin bahwa cara tersebut dapat berdampak penjualan harga yang sangat rendah, dan dapat menggerus lapangan kerja di sektor ekonomi lainnya.

Lebih lanjut Alibaba menyebut, pihaknya telah menerima pemberitahuan dari pihak pemberi regulasi bahwa anti monopoli penjualan telah dilaksanakan.

"Alibaba akan aktif bekerja sama dengan pihak regulator dalam penyelidikan, " Ujarnya

Ant Group juga mengatakan, pihaknya akan mempelajari aturan tersebut dan akan mematuhi aturan yang sudah ditetapkan oleh SAMR.

Bursa dagang perusahaan teknologi China anjlok di pasar saham HongKong pada Kamis (24/12), di antaranya Tencent, JD.com dan Meituan. Ke tiga perusahaan tersebut turun lebih dari 2 persen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar